Tuesday, April 11, 2017

PROFESIONALISME PEKERJAAN BERBASIS JABATAN

A.      Definisi Profesionalisme 
Definisi profesionalisme (profesionalism) menurut Reference.com Dictionary (2003) bahwa profesionalisme adalah sebuah kata benda yang berarti ciri khas kemahiran dari seorang yang profesional (the expertness characteristic of a profesional person). Dengan katagori sebagai berikut: state (status), skillfulness (kemahiran), expertness; expertise (pengalaman; keahlian), profesionalism (profesionalisme).  Pengertian profesionalisme secara konseptual hanya dapat diterapkan pada jabatan tertentu misalnya rekayasawan, yang memenuhi sejumlah kriteria. Menurut Martin dan Schinzinger (dalam Dipohusodo 1996) yang memberikan pandangan tentang profesionalisme, bahwa kriteria umum rekayasawan yang profesional adalah: 1. Mencapai standar prestasi dalam pendidikan, kemampuan atau kreativitas bekerja, dalam bidang rekayasa. 2. Bersedia menerima tanggung jawab moral terhadap masyarakat, konsumen pelanggan, sejawat, atasan maupun bawahan sebagai kewajiban profesionalnya.
 Definisi profesionalisme menurut Morris (Sudarto 2001) adalah memiliki hal-hal sebagai berikut:
1.       Metoda profesional Pada dasarnya metoda melibatkan kompetensi seseorang di suatu bidang yang diperoleh melalui proses pendidikan formal dan pengalaman kerja. Menurut Clark V. Baker (Sudarto 2001), bahwa tindakan profesional harus kompeten, dan orang yang profesional bekerja atau menerapkan sesuai dengan apa yang diketahuinya sesuai dengan lingkup pendidikan atau pengalamannya. Aspek tanggung jawab profesionalisme adalah dedikasi dan keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Biasanya profesional memiliki pendidikan teknik di bidang pengetahuan tertentu dan menerapkan pengetahuan ini dalam jasanya kepada masyarakat.
2.       Status profesional Status profesional diartikan bahwa seseorang memperoleh penghargaan atau pengakuan tertentu di bidang yang digelutinya, atau orang tersebut telah memenuhi persyaratan profesi.
3.       Standar profesional  Standar melibatkan legal dan ethical restraints dan bersumber dari hukum negara, dan peraturan-peraturan pemerintah yang berkaitan dengan profesionalisasi. Mengenai tanggung jawab profesi, bahwa rekayasawan profesional harus mengikuti peraturan dan standar yang berlaku sesuai dengan hukum negara dan peraturan lokal.
4.       Karakter profesional Karakter seseorang merupakan aspek profesionalisme yang terakhir. Dengan melalui berbagai situasi seseorang akan teruji apakah orang tersebut benar-benar profesional.

B.      Manajer Proyek 
Definisi manajer proyek menurut Project Mangement Body of Knowledge Guide (PMI 2001) mengatakan bahwa manajer proyek seseorang yang bertanggung jawab dalam mengurus sebuah proyek. Menurut Ritz (1994) seorang manajer proyek berasal dari suatu institusi atau seorang pengusaha yang sinonim dengan pengurus, eksekutif, supervisor dan boss.
 Badiru dan Pulat (1995) menjelaskan bahwa peran seorang manajer proyek akan menggunakan sumber daya yang tersedia untuk memenuhi sasaran dan tujuan.   Seorang manajer proyek mempunyai tanggung jawab yang utama dalam memastikan bahwa suatu proyek diterapkan menurut rencana proyek. Manajer proyek mempunyai jarak interaksi yang luas di dalam dan di luar lingkungan proyek itu. Seorang manajer proyek harus serbaguna, tegas, dan efektif dalam penanganan permasalahan yang dikembangkan sepanjang tahap pelaksanaan proyek.
 Pemilihan seorang manajer proyek memerlukan pertimbangan yang hati-hati sebab pemilihan manajer proyek adalah salah satu hal yang krusial dari fungsi proyek. Manajer proyek harus seseorang yang memiliki kedua kredibilitas administratif dan teknis, yang dapat melaksanakan pekerjaan dengan segera dan memuaskan, serta dirasa perlu mempunyai pengetahuan teknis untuk mengarahkan proyek. Manajer proyek harus pula seseorang pencatat yang baik. 
Kwaku A. Tenah (Sudarto 2001), dalam penelitiannya tentang personel dan kebutuhan informasi yang sesuai dengan tingkat manajemen, melibatkan manajer proyek sebagai salah satu personel penting dalam kelompok tingkat manajemen konstruksi. Fungsi utama pada tingkat manajemen konstruksi adalah mencapai dan memonitor pekerjaan.
Beberapa fungsi tambahan yang diberikan oleh tingkat manajemen konstruksi pada umumnya terdiri dari:
1.       Mengadakan dan memelihara hubungan baik dengan pemilik, arsitek, engineers, kontraktor, public officials dan bisnis serta organisasi di tingkat divisi lainnya.
2.       Menerapkan semua fungsi manajemen, engineering services, hasil desain, perencanaan/penjadwalan, dan program pengontrolan pada tingkat divisi.
3.       Menerima dan menyeleksi semua laporan kemajuan, biaya, jadwal dan lain-lain dari semua proyek yang ada dalam divisi


C.      Profesionalisme Manajer Proyek 
Dalam seminar dan pameran Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) tahun 2002, Presiden Direktur PT. FOSROC Indonesia selaku ketua panitia, Wiyono mengatakan bahwa semua komponen yang berkepentingan dengan dunia konstruksi nasional perlu terus mengasah kemampuan pribadinya agar dapat mengikuti perkembangan bidang konstruksi mutakhir secara berkesinambungan. Profesionalisme merupakan sesuatu yang dinamis, karena itu diperlukan kesadaran moral untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan dan kompetisinya. Pernyataan ini didukung pula oleh pakar konstruksi, Wiratman Wangsadinata yang menuturkan ikhwal profesionalisme yang lebih menyangkut soal moral seseorang, yang secara sadar terus berusaha mengupayakan peningkatan kemampuannya (Konstruksi 2002, September)  .
Di lain pihak, Ahmad Noe’man (Konstruksi 2002, Oktober) mengatakan bahwa profesionalisme seseorang itu harus memiliki:
1.       High Learn Seseorang harus benar-benar mempunyai pendidikan yang bagus
2.       Sence of Honest Mempunyai tingkat kejujuran yang tinggi
3.       Independence Bebas untuk tidak terbawa oleh arus yang kurang baik
4.       Competence Bertanggung jawab pada semua hasil karyanya
5.       Corporateness Mempunyai rasa setia kawan yang tinggi.
Sudarto (2001), mengatakan bahwa dua daftar yang digabungkan menjadi satu di bawah ini, menggambarkan karakteristik yang impresif. Karakteristik ini lebih jauh menunjukkan bagaimana dasar pekerjaan manajemen konstruksi yang sebenarnya, yaitu sebagian besar sifat melibatkan faktor interpersonal dalam berbagai bentuk. Dasar sifat personal paling penting yang diperlukan untuk mengelola proyek konstruksi dengan sukses adalah sebagai berikut:
1.       Manajemen atau administrator yang efektif
2.       Pengambilan keputusan yang tepat
3.       Komunikator
4.       Pemecah masalah/problem solver
5.       Kemampuan leadership yang memberikan motivasi yang kuat
6.       Standar etika dan integritas yang tinggi
7.       Pengetahuan dan kemampuan berbagai disiplin ilmu
Berkaitan dengan pekerjaan seorang manajer, maka menurut Katz, kemampuan yang diperlukan oleh manajer adalah:
1.       Kemampuan konseptual
2.       Kemampuan interpersonal
3.       Kemampuan administrasi
4.       Kemampuan teknis 


D.      Manajemen Proyek 
Kegiatan proyek konstruksi merupakan kegiatan yang bersifat unik dan kompleks dengan waktu dan sumberdaya yang terbatas. Dengan keterbatasan anggaran, waktu dan mutu yang dikenal dengan tiga kendala (triple constrain) maka diperlukan suatu konsep manajemen proyek untuk mengelola hal tersebut.  Project Management Body of Knowledge (PMI 2001) mengatakan bahwa manajemen proyek adalah aplikasi dari ilmu pengetahuan, keterampilan, sarana dan keahlian untuk memenuhi kebutuhan proyek. Manajemen proyek terpenuhi melalui proses seperti: memulai, perencanaan melaksanakan, mengendalikan dan mengakhiri.
Tim proyek mengatur pekerjaan proyek dan pekerjaan yang secara khas melibatkan:
1.       Persaingan permintaan untuk lingkup, waktu, biaya, risiko dan kualitas
2.       Stakeholders dengan harapan dan kebutuhan yang berbeda.
3.       Identifikasi kebutuhan Hal ini penting dicatat bahwa banyak proses dalam manajemen proyek merupakan iterative secara alami.
Berkaitan dengan keberadaan dan keperluan pengembangan kemajuan proyek sepanjang siklus hidup proyek, maka semakin memahami tentang proyek semakin baik bias mengatur hal itu.

E.       Proyek Konstruksi 
Menurut Barie dan Paulson (1995) mengatakan bahwa proyek konstruksi merupakan proses dimana rencana, disain dan spesifikasi dikonversikan menjadi struktur dan fasilitas fisik. Proses konstruksi melibatkan organisasi dan seluruh sumber daya proyek untuk menyelesaikan proyek tepat waktu, sesuai anggaran sesuai dengan kualitas yang dispesifikasikan. 
Pada masa kini dan masa akan datang, proyek di bidang konstruksi dibagi menjadi 4 (empat) katagori utama, yaitu:
  1. Konstruksi permukiman (residential construction) Konstruksi permukiman meliputi perumahan keluarga tunggal, perumahan kota, rumah susun, apartemen dan kondominium.
  2. Konstruksi gedung (building construction) Konstruksi gedung mengahasilkan bangunan-bangunan yang dimulai dari toko pengecer yang kecil sampai kepada kompleks peremajaan kota, mulai sekolah dasar sampai universitas baru yang lengkap, rumah sakit, bangunan bertingkat perkantoran komersial, bioskop, gedung pemerintah, pusat rekreasi, pabrik dan pergudangan.
  3. Konstruksi rekayasa berat (heavy engineering construction) Proyek dalam katagori ini adalah system penyaringan dan distribusi air minum, system penanganan dan pembuangan bahan limbah serta jaringan listrik dan jaringan komunikasi.
  4. Konstruksi Industri (industrial construction) Proyek yang termasuk dalam katagori ini adalah berupa pengembangan usaha pertambangan, pabrik baja dan aluminium, pabrik industri dasar/berat dan fasilitas lainnya yang dibutuhkan oleh pelayanan umum dan industri dasar.  




REFERENSI:



CYBER CRIME

CYBER CRIME Cyber Crime adalah bentuk kejahatan baru yang menggunakan internet sebagai media untuk melakukan tindak kejahatan engan muncu...