A.
Definisi
Profesionalisme
Definisi
profesionalisme (profesionalism) menurut Reference.com Dictionary (2003) bahwa
profesionalisme adalah sebuah kata benda yang berarti ciri khas kemahiran dari
seorang yang profesional (the expertness characteristic of a profesional
person). Dengan katagori sebagai berikut: state (status), skillfulness
(kemahiran), expertness; expertise (pengalaman; keahlian), profesionalism
(profesionalisme). Pengertian
profesionalisme secara konseptual hanya dapat diterapkan pada jabatan tertentu
misalnya rekayasawan, yang memenuhi sejumlah kriteria. Menurut Martin dan
Schinzinger (dalam Dipohusodo 1996) yang memberikan pandangan tentang
profesionalisme, bahwa kriteria umum rekayasawan yang profesional adalah: 1.
Mencapai standar prestasi dalam pendidikan, kemampuan atau kreativitas bekerja,
dalam bidang rekayasa. 2. Bersedia menerima tanggung jawab moral terhadap
masyarakat, konsumen pelanggan, sejawat, atasan maupun bawahan sebagai
kewajiban profesionalnya.
Definisi profesionalisme menurut Morris
(Sudarto 2001) adalah memiliki hal-hal sebagai berikut:
1. Metoda
profesional Pada dasarnya metoda melibatkan kompetensi seseorang di suatu
bidang yang diperoleh melalui proses pendidikan formal dan pengalaman kerja.
Menurut Clark V. Baker (Sudarto 2001), bahwa tindakan profesional harus
kompeten, dan orang yang profesional bekerja atau menerapkan sesuai dengan apa
yang diketahuinya sesuai dengan lingkup pendidikan atau pengalamannya. Aspek
tanggung jawab profesionalisme adalah dedikasi dan keinginan untuk
menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Biasanya profesional memiliki pendidikan
teknik di bidang pengetahuan tertentu dan menerapkan pengetahuan ini dalam
jasanya kepada masyarakat.
2. Status
profesional Status profesional diartikan bahwa seseorang memperoleh penghargaan
atau pengakuan tertentu di bidang yang digelutinya, atau orang tersebut telah
memenuhi persyaratan profesi.
3. Standar
profesional Standar melibatkan legal dan
ethical restraints dan bersumber dari hukum negara, dan peraturan-peraturan
pemerintah yang berkaitan dengan profesionalisasi. Mengenai tanggung jawab
profesi, bahwa rekayasawan profesional harus mengikuti peraturan dan standar
yang berlaku sesuai dengan hukum negara dan peraturan lokal.
4. Karakter
profesional Karakter seseorang merupakan aspek profesionalisme yang terakhir.
Dengan melalui berbagai situasi seseorang akan teruji apakah orang tersebut
benar-benar profesional.
B.
Manajer
Proyek
Definisi
manajer proyek menurut Project Mangement Body of Knowledge Guide (PMI 2001)
mengatakan bahwa manajer proyek seseorang yang bertanggung jawab dalam mengurus
sebuah proyek. Menurut Ritz (1994) seorang manajer proyek berasal dari suatu
institusi atau seorang pengusaha yang sinonim dengan pengurus, eksekutif,
supervisor dan boss.
Badiru dan Pulat (1995) menjelaskan bahwa
peran seorang manajer proyek akan menggunakan sumber daya yang tersedia untuk
memenuhi sasaran dan tujuan. Seorang
manajer proyek mempunyai tanggung jawab yang utama dalam memastikan bahwa suatu
proyek diterapkan menurut rencana proyek. Manajer proyek mempunyai jarak
interaksi yang luas di dalam dan di luar lingkungan proyek itu. Seorang manajer
proyek harus serbaguna, tegas, dan efektif dalam penanganan permasalahan yang
dikembangkan sepanjang tahap pelaksanaan proyek.
Pemilihan seorang manajer proyek memerlukan
pertimbangan yang hati-hati sebab pemilihan manajer proyek adalah salah satu
hal yang krusial dari fungsi proyek. Manajer proyek harus seseorang yang
memiliki kedua kredibilitas administratif dan teknis, yang dapat melaksanakan
pekerjaan dengan segera dan memuaskan, serta dirasa perlu mempunyai pengetahuan
teknis untuk mengarahkan proyek. Manajer proyek harus pula seseorang pencatat
yang baik.
Kwaku A. Tenah
(Sudarto 2001), dalam penelitiannya tentang personel dan kebutuhan informasi
yang sesuai dengan tingkat manajemen, melibatkan manajer proyek sebagai salah
satu personel penting dalam kelompok tingkat manajemen konstruksi. Fungsi utama
pada tingkat manajemen konstruksi adalah mencapai dan memonitor pekerjaan.
Beberapa
fungsi tambahan yang diberikan oleh tingkat manajemen konstruksi pada umumnya
terdiri dari:
1. Mengadakan
dan memelihara hubungan baik dengan pemilik, arsitek, engineers, kontraktor,
public officials dan bisnis serta organisasi di tingkat divisi lainnya.
2. Menerapkan
semua fungsi manajemen, engineering services, hasil desain,
perencanaan/penjadwalan, dan program pengontrolan pada tingkat divisi.
3. Menerima
dan menyeleksi semua laporan kemajuan, biaya, jadwal dan lain-lain dari semua
proyek yang ada dalam divisi
C.
Profesionalisme
Manajer Proyek
Dalam seminar
dan pameran Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) tahun 2002, Presiden
Direktur PT. FOSROC Indonesia selaku ketua panitia, Wiyono mengatakan bahwa
semua komponen yang berkepentingan dengan dunia konstruksi nasional perlu terus
mengasah kemampuan pribadinya agar dapat mengikuti perkembangan bidang
konstruksi mutakhir secara berkesinambungan. Profesionalisme merupakan sesuatu
yang dinamis, karena itu diperlukan kesadaran moral untuk terus berupaya
meningkatkan kemampuan dan kompetisinya. Pernyataan ini didukung pula oleh
pakar konstruksi, Wiratman Wangsadinata yang menuturkan ikhwal profesionalisme
yang lebih menyangkut soal moral seseorang, yang secara sadar terus berusaha
mengupayakan peningkatan kemampuannya (Konstruksi 2002, September) .
Di lain pihak,
Ahmad Noe’man (Konstruksi 2002, Oktober) mengatakan bahwa profesionalisme
seseorang itu harus memiliki:
1. High
Learn Seseorang harus benar-benar mempunyai pendidikan yang bagus
2. Sence
of Honest Mempunyai tingkat kejujuran yang tinggi
3. Independence
Bebas untuk tidak terbawa oleh arus yang kurang baik
4. Competence
Bertanggung jawab pada semua hasil karyanya
5. Corporateness
Mempunyai rasa setia kawan yang tinggi.
Sudarto
(2001), mengatakan bahwa dua daftar yang digabungkan menjadi satu di bawah ini,
menggambarkan karakteristik yang impresif. Karakteristik ini lebih jauh
menunjukkan bagaimana dasar pekerjaan manajemen konstruksi yang sebenarnya,
yaitu sebagian besar sifat melibatkan faktor interpersonal dalam berbagai
bentuk. Dasar sifat personal paling penting yang diperlukan untuk mengelola
proyek konstruksi dengan sukses adalah sebagai berikut:
1. Manajemen
atau administrator yang efektif
2. Pengambilan
keputusan yang tepat
3. Komunikator
4. Pemecah
masalah/problem solver
5. Kemampuan
leadership yang memberikan motivasi yang kuat
6. Standar
etika dan integritas yang tinggi
7. Pengetahuan
dan kemampuan berbagai disiplin ilmu
Berkaitan
dengan pekerjaan seorang manajer, maka menurut Katz, kemampuan yang diperlukan
oleh manajer adalah:
1. Kemampuan
konseptual
2. Kemampuan
interpersonal
3. Kemampuan
administrasi
4. Kemampuan
teknis
D.
Manajemen
Proyek
Kegiatan
proyek konstruksi merupakan kegiatan yang bersifat unik dan kompleks dengan
waktu dan sumberdaya yang terbatas. Dengan keterbatasan anggaran, waktu dan
mutu yang dikenal dengan tiga kendala (triple constrain) maka diperlukan suatu
konsep manajemen proyek untuk mengelola hal tersebut. Project Management Body of Knowledge (PMI
2001) mengatakan bahwa manajemen proyek adalah aplikasi dari ilmu pengetahuan,
keterampilan, sarana dan keahlian untuk memenuhi kebutuhan proyek. Manajemen
proyek terpenuhi melalui proses seperti: memulai, perencanaan melaksanakan,
mengendalikan dan mengakhiri.
Tim proyek
mengatur pekerjaan proyek dan pekerjaan yang secara khas melibatkan:
1. Persaingan
permintaan untuk lingkup, waktu, biaya, risiko dan kualitas
2. Stakeholders
dengan harapan dan kebutuhan yang berbeda.
3. Identifikasi
kebutuhan Hal ini penting dicatat bahwa banyak proses dalam manajemen proyek
merupakan iterative secara alami.
Berkaitan
dengan keberadaan dan keperluan pengembangan kemajuan proyek sepanjang siklus
hidup proyek, maka semakin memahami tentang proyek semakin baik bias mengatur
hal itu.
E.
Proyek
Konstruksi
Menurut Barie dan Paulson (1995) mengatakan bahwa proyek konstruksi
merupakan proses dimana rencana, disain dan spesifikasi dikonversikan menjadi
struktur dan fasilitas fisik. Proses konstruksi melibatkan organisasi dan
seluruh sumber daya proyek untuk menyelesaikan proyek tepat waktu, sesuai
anggaran sesuai dengan kualitas yang dispesifikasikan.
Pada masa kini dan masa akan datang, proyek di bidang konstruksi dibagi
menjadi 4 (empat) katagori utama, yaitu:
- Konstruksi permukiman (residential construction) Konstruksi permukiman meliputi perumahan keluarga tunggal, perumahan kota, rumah susun, apartemen dan kondominium.
- Konstruksi gedung (building construction) Konstruksi gedung mengahasilkan bangunan-bangunan yang dimulai dari toko pengecer yang kecil sampai kepada kompleks peremajaan kota, mulai sekolah dasar sampai universitas baru yang lengkap, rumah sakit, bangunan bertingkat perkantoran komersial, bioskop, gedung pemerintah, pusat rekreasi, pabrik dan pergudangan.
- Konstruksi rekayasa berat (heavy engineering construction) Proyek dalam katagori ini adalah system penyaringan dan distribusi air minum, system penanganan dan pembuangan bahan limbah serta jaringan listrik dan jaringan komunikasi.
- Konstruksi Industri (industrial construction) Proyek yang termasuk dalam katagori ini adalah berupa pengembangan usaha pertambangan, pabrik baja dan aluminium, pabrik industri dasar/berat dan fasilitas lainnya yang dibutuhkan oleh pelayanan umum dan industri dasar.
REFERENSI: